Selasa, 31 Maret 2015

Surat Pernyataan


Paper Proposal CB - Interpersonal Development

Paper Proposal

CB – Interpersonal Development




Description: logo
 











Kelompok 6
·         Delfina Yulis                           - 1701290873
·         Adlina Farizah                       - 1701334931
·         Rommy Chandra                   - 1701308914
·         Avol Yapper                           - 1701326066
·         Titi Sari Surya Pratikno        - 1701308220
·         Ival Rivaldi                             - 1701307123
·         Ardan Alfitra                         - 1701324911







Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia


Kantor Pusat:
Tzu Chi Center Tower 2, Lantai 6, BGM
Jl. Pantai Indah Kapuk (PIK) Boulevard, Jakarta Utara 14470
Email: info@tzuchi.or.id 
Telp. 021-5055 9999, Fax. 021-5055 6699
Website: http://www.tzuchi.or.id

Macintosh HD:Users:callista:Desktop:Screen Shot 2015-03-15 at 7.40.45 AM.png










Sejarah Tzu Chi
Text Box: Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937 di Chingsui, Taiwan bagian tengah. Wafatnya sang ayah di tahun 1960 menjadikan beliau memahami bahwa hidup ini hanyalah sementara dan selalu berubah. Sejak saat itu beliau mulai mempelajari agama Buddha secara lebih serius sebelum akhirnya menjalani hidup sebagai bhiksuni pada tahun 1964.






Suatu hari di tahun 1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya datang ke suatu balai pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi salah seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, beliau melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak tampak adanya pasien. Dari informasi yang didapat diketahui bahwa darah tersebut milik seorang wanita penduduk asli asal Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu membayar NT$ 8.000 (sekitar Rp 2,4 juta), wanita tersebut tidak bisa berobat dan terpaksa harus dibawa pulang.

Mendengar hal ini, perasaan Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu beliau memutuskan hendak berusaha mengumpulkan dana amal untuk menolong orang dan menyumbangkan semua kemampuan yang ada pada dirinya untuk menolong orang yang menderita sakit dan kemiskinan di Taiwan bagian timur.

Karena ada jalinan jodoh, di saat itu kebetulan sekali tiga orang suster Katolik dari Sekolah Menengah Hualien datang berkunjung untuk menemui Master Cheng Yen. Suster bertanya, "Agama Katolik kami telah membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, dan mengelola panti jompo untuk membagi kasih sayang kepada semua umat manusia, walaupun Buddha juga menyebut menolong dunia dengan welas asih, tetapi mohon tanya, agama Buddha mempersembahkan apa untuk masyarakat?" Kata-kata ini sangat menyentuh hati Master Cheng Yen. Sebenarnya waktu itu umat Buddha juga menjalankan kebajikan dan beramal, namun tanpa mementingkan namanya. Dari situ membuktikan bahwa semua umat Buddha memiliki rasa cinta kasih yang dalam, hanya saja terpencar dan kurang koordinasi serta kurang terkelola. Master Cheng Yen bertekad untuk menghimpun potensi ini dengan diawali dari mengulurkan tangan mendahulukan bantuan kemanusiaan.

Cikal Bakal Tzu Chi Dimulai dari Celengan Bambu
Kegiatan kemanusiaan Tzu Chi untuk kaum fakir miskin diawali dari 6 ibu rumah tangga yang setiap hari, masing-masing individu, merajut sepasang sepatu bayi. Di samping itu, setiap anggota diberi sebuah celengan bambu oleh Master Cheng Yen, agar para ibu rumah tangga setiap pagi sebelum pergi berbelanja ke pasar, menghemat dan menabung 50 sen ke dalam celengan bambu. Dari 30 anggota bisa terkumpul 450 dolar setiap bulan, ditambah hasil pembuatan sepatu bayi 720 dolar, maka setiap bulan bisa terkumpul sebanyak 1.170 dolar sebagai dana bantuan untuk kaum fakir miskin.

Kabar ini dengan cepat tersebar luas ke berbagai tempat di Hualien, dan orang yang ingin turut bergabung semakin banyak. Pada tanggal 14 Mei 1966, Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi secara resmi terbentuk.

Pada awal masa pembentukan Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi, Master Cheng Yen bersama para pengikut mengambil tempat sempit yang tidak lebih dari 20 m2 di Vihara Pu Ming, sambil berupaya menghasilkan produk untuk mendukung kehidupan, sambil mengurus jalannya organisasi. Pada musim gugur tahun 1967, ibunda Master Cheng Yen membelikannya sebidang tanah yang sekarang dimanfaatkan untuk bangunan Griya Perenungan. Walaupun demikian, Master Cheng Yen beserta para pengikut masih tetap mempertahankan prinsip hidup mandiri. Biaya perluasan seluruh proyek Griya Perenungan, selain mengandalkan pinjaman uang dari bank atas dasar hipotik hak kepemilikan tanah tersebut, juga dari hasil usaha kerajinan tangan. Sampai kini pun, Master Cheng Yen dan para pengikutnya tetap hidup mandiri dengan bercocok tanam ataupun menjalankan industri rumah tangga. Mereka tidak mau menerima sumbangan.


Tzu Chi Indonesia
Text Box: Benih Tzu Chi masuk ke Indonesia pada tahun 1993, ketika Liang Cheung, seorang relawan Tzu Chi Taiwan, datang ke Indonesia mendampingi suaminya. Di sini ia berkenalan dengan istri dari pengusaha Taiwan. Liang Cheung kemudian mengajak mereka berpartisipasi menjadi donatur Tzu Chi. Lama-kelamaan, setelah mengamati penderitaan masyarakat di sekitarnya, para ibu rumah tangga ini berpikir, “Mengapa kita tidak melakukan kegiatan sosial di sini, di Indonesia?”













Pada tahun 1994, para ibu ini berkunjung ke Hualien, Taiwan untuk menemui Master Cheng Yen. Di sana mereka memohon restu untuk secara resmi mendirikan Tzu Chi di Indonesia. Saat itu Master Cheng Yen berpesan, “Bagi yang mencari nafkah di negeri orang, harus memanfaatkan potensi setempat, dan berkontribusi bagi penduduk setempat.” Demikianlah para istri ekspatriat Taiwan ini membuka lahan cinta kasih di Indonesia. Hingga kini, meski berlabel yayasan Buddha, namun para donatur dan relawan Tzu Chi berasal dari berbagai agama. Begitu pun dalam setiap kegiatannya, tidak pernah memandang suku, agama, ras, dan golongan.


Bersumbangsih untuk Sesama
Sejak tahun 1993, relawan Tzu Chi sudah mulai bersumbangsih pada masyarakat di sekitar mereka. April 1994, Tzu Chi Indonesia mulai mengunjungi panti jompo secara rutin. Juli 1994, Tzu Chi mulai memberikan bantuan bencana berupa lampu petromaks pada korban bencana tsunami di Jawa Timur. Bulan Desember 1994 saat Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus, Tzu Chi memberi bantuan kebutuhan hidup dan juga perumahan.

Dalam perjalanannya, bantuan yang diberikan semakin bervariatif, mulai dari pemberian beasiswa pada siswa SDN Jembatan Baru, Jakarta Utara, bantuan kepada pasien penanganan khusus yang pertama, Ferry yang menderita rakhitis, hingga program pemberantasan TBC di Tangerang. Sejak tahun 2000, perkembangan Tzu Chi Indonesia semakin nyata dengan sumbangsih dalam koridor 4 misi utama.


Cinta Kasih Terus Bergulir
Banjir besar Jakarta awal tahun 2002 melatarbelakangi serangkaian program jangka panjang berskala besar. Pada Maret 2002, Tzu Chi membersihkan Kali Angke dan Kali Ciliwung. Kemudian pada Juli 2002, dimulai pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi bagi warga bantaran Kali Angke yang tinggal di daerah kumuh dan menjadi korban banjir. Perumahan Cinta Kasih di Cengkareng, Jakarta Barat ini diresmikan Presiden Megawati Soekarno Putri tanggal 25 Agustus 2003, dan lengkap dengan poliklinik, sekolah, balai warga, musala, dan pusat daur ulang.

Sepanjang tahun 2003, Tzu Chi Indonesia disibukkan dengan pembagian 50.000 ton beras cinta kasih kepada masyarakat Indonesia yang membutuhkan. Berangkat dari beras, Tzu Chi sembari menyebarkan filosofi cinta kasih universal. Di berbagai kota, mulai muncul orang-orang yang bersedia menjadi relawan, bahkan di beberapa kota terbentuk kantor penghubung Tzu Chi.



Logo Tzu Chi
Text Box: Bentuk utama logo Tzu Chi berupa bunga teratai, yang melambangkan bahwa kita dapat menjadikan dunia lebih baik dengan menanam benih kebajikan. Hanya dengan benih, bunga dapat mekar dan berbuah. Sebuah dunia yang lebih baik dapat diciptakan dengan kebajikan dan pikiran yang murni.










Perahu melambangkan Tzu Chi mengemudikan sebuah perahu cinta kasih untuk menyelamatkan semua makhluk hidup dari penderitaan. Delapan kelopak melambangkan Delapan Ruas Jalan Mulia yang menjadi panduan bagi anggota Tzu Chi dalam melangkah.

Delapan Ruas Jalan Mulia tersebut meliputi:
1. Pandangan Benar
2. Pikiran Benar
3. Ucapan Benar
4. Perbuatan Benar
5. Mata Pencaharian Benar
6. Usaha Benar
7. Perhatian Benar
8. Konsentrasi Benar.


Visi & Misi Tzu Chi

Dengan hati penuh welas asih dan kemurahan hati, menjalankan misi untuk menolong sesama makhluk yang menderita, mengembangkan kebahagiaan, melenyapkan penderitaan, menciptakan dunia Tzu Chi yang bersih dan suci, dengan kebijaksanaan menunaikan tugas yang sempurna, mengajak kaum dermawan di seluruh dunia, bersama-sama menanam jasa kebajikan dilahan kebajikan yang subur, dengan tekun menanam ribuan kuntum teratai dalam hati, menciptakan bersama masyarakat yang penuh dengan cinta kasih
Text Box: MISI AMAL
Internasionalisasi misi kemanusiaan "welas asih atas ketidakrelaan pada penderitaan semua makhluk"

MISI KESEHATAN
Secara menyeluruh - jaringan menghargai jiwa

MISI PENDIDIKAN
Yang kompleks dan menyeluruh - Perlindungan jiwa manusia

MISI BUDAYA KEMANUSIAAN
Arus mensucikan hati manusia

Berserta 4 misi lainnya.
Macintosh HD:Users:callista:Desktop:Screen Shot 2015-03-15 at 8.17.38 AM.png












Tzu Ching (Muda-Mudi)
Text Box: Tzu Ching adalah wadah generasi muda Tzu Chi yang terdiri dari sekelompok mahasiswa-mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi. Master Cheng Yen memberikan pesan kepada Tzu Ching untuk “Menggunakan kekuatan kaum muda dan memberi pengaruh bagi kaum muda. Tzu Ching harus mengembangkan semangat kebersamaan demi membimbing lebih banyak kaum muda untuk berpartisipasi dalam organisasi yang indah dan bajik ini.” Pesan itu pun disambut baik oleh Tzu Ching sedunia, termasuk Indonesia. Sejak terbentuk di Jakarta pada tanggal 7 September 2003 dengan anggota sebanyak 32 orang, hingga kini Tzu Ching telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Medan, Pekanbaru, Batam, Singkawang, hingga Makassar.

Setiap tahunnya Tzu Ching berkumpul mengajak teman-teman baru untuk mengenal misi Tzu Chi lebih dalam lagi melalui Tzu Ching Camp. Kegiatan selama 3 hari 2 malam ini pertama kali dimulai pada tanggal 30 Desember 2006 – 1 Januari 2007 dan diikuti sebanyak 49 orang. Camp pertama ini dilanjutkan camp selanjutnya setiap tahun. Semakin lama, jumlah peserta pun semakin bertambah. Hingga tahun 2012, telah terselenggara 7 kali Tzu Ching Camp dan sudah diikuti sebanyak 764 orang. Pada tanggal 7 September 2013, untuk memperingati 10 tahun terbentuknya Tzu Ching, para relawan muda ini menggelar pementasan Sutra Makna Tak Terhingga (Wu Liang Yi Jing) yang dihadiri untuk Tzu Ching dari berbagai kota.


Berbagai kegiatan diikuti oleh Tzu Ching, mulai dari baksos, pembagian beras, kunjungan kasih ke rumah penerima bantuan Tzu Chi, dan juga panti asuhan dan jompo, hingga kegiatan pelestarian lingkungan. Berbagai kegiatan Tzu Chi pun sering didukung oleh Tzu Ching sebagai salah satu relawan komunitas. Mereka membawa harapan bahwa cinta kasih akan terus diwariskan dan senantiasa hadir di masa mendatang.

Aula Jing Si Indonesia












Sejak berkiprah pada tahun 1993, insan Tzu Chi selalu terlebih dahulu memberi bantuan kepada orang lain, membangun sekolah dan juga rumah. Setelah segala hal ini dilakukan barulah Tzu Chi membangun “rumah” baginya sendiri. Dalam kurun waktu 19 tahun (1993 – 2012), 4 misi utama dan 8 jejak Dharma dijalankan para relawan Tzu Chi dari belahan barat hingga timur Indonesia.

Berkembangnya jumlah relawan dan kegiatan mendorong didirikannya sebuah pusat kegiatan baru yaitu Aula Jing Si Indonesia (Kompleks Tzu Chi) yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Berdiri di areal 10 hektar, bangunan utama Aula Jing Si ini terdiri dari 8 lantai, dan menjadi pusat kegiatan Tzu Chi Indonesia, mencakup kantor yayasan, studio DAAI TV, pusat pengembangan empat misi Tzu Chi, serta pusat pendidikan dan bimbingan masyarakat.

Pada tanggal 7 Oktober 2012, Aula Jing Si Indonesia diresmikan penggunaannya oleh Menko Kesra RI Agung Laksono, dan dihadiri oleh para pejabat pemerintahan lainnya, para pemuka agama, dan tokoh masyarakat. Lebih dari 5.000 relawan dan masyarakat umum menjadi saksi momen bersejarah ini, termasuk para relawan dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Filipina, Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Tiongkok.

Berdirinya Aula Jing Si diharapkan dapat menghadirkan semangat pengabdian diri yang penuh welas asih dari para insan Tzu Chi. Master Cheng Yen berharap Aula Jing Si bisa menjadi tempat “pembabaran Dharma tanpa suara”, serta dapat merekam dan mewariskan jejak cinta kasih Tzu Chi kepada generasi masa depan.

Alasan memilih Komunitas Tzu chi

Kami memilih komunitas Tzu Chi karena kami telah sering lihat pada beberapa kesempatan, mereka melakukan berbagai acara amal yang bermanfaat dan membantu bagi orang-orang yang membutuhkan. Sehingga daripada itu, kami atas dasar ingin ikut membantu melancarkan acara dan bersamaan dengan itu ingin belajar dari apa yang diajarkan oleh komunitas Tzu Chi.

Alasan lain yang mendasari keinginan kami untuk turut serta dalam kegiatannya juga karena kami setuju dengan misi-misi yang dipunyai Tzu Chi. Lebih khususnya kami memilih untuk ikut serta dalam  misi pelestarian lingkungan sebagai salah satu misi yang kami anggap menjadi penting pada zaman sekarang. Mengingat global warming sendiri merupakan masalah yang sangat genting untuk diperhatikan dan dibenahi oleh semua Negara di dunia. 

Mengingat juga masalah pendidikan menjadi salah satu yang menghalangi Negara-negara berkembang dalam mensejahterakan rakyatnya, dan Indonesia yang juga merupakan Negara berkembang yang mengalami masalah yang sama. Kami sebagai warga negara Indonesia tidak mau tinggal diam dan akan ikut serta memerangi kebodohan, dan daripadanya misi pendidikan Tzu Chi juga menjadi fokus kami.


Jenis Kegiatan yang akan dilakukan kedepan
Text Box: PUBT adalah sebuah aksi sosial dalam rangka membantu penyandang tunanetra melalui penambahan referensi judull buku bacaan yang diketik oleh volunteer agar para penyandang tunanetra dapat belajar, berkembang, dan mengoptimalkan diri. 

PUBT akan dilaksanakan pada :
Minggu, 5 April 2015
08.00-17.00 WIB 
Tzu Chi Center
Jl. Pantai Indah Kapuk (PIK) Boulevard


Text Box: Kami akan memilih bertugas pada tanggal 3 Mei 2015

 




Rounded Rectangle: DokumentasiMacintosh HD:Users:callista:Downloads:DSC_0017.JPGMacintosh HD:Users:callista:Downloads:1426233799792.jpgMacintosh HD:Users:callista:Downloads:DSC_0027.JPG




Macintosh HD:Users:callista:Downloads:DSC_0010.JPGMacintosh HD:Users:callista:Downloads:DSC_0013.JPGMacintosh HD:Users:callista:Downloads:DSC_0020.JPG










Macintosh HD:Users:callista:Downloads:DSC_0022-2.JPG



Surat Pernyataan