Paper Proposal
CB – Interpersonal Development
![]() |
Kelompok
6
·
Delfina Yulis -
1701290873
·
Adlina Farizah -
1701334931
·
Rommy Chandra -
1701308914
·
Avol Yapper -
1701326066
·
Titi Sari Surya Pratikno - 1701308220
·
Ival Rivaldi -
1701307123
·
Ardan Alfitra
- 1701324911
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia

Kantor Pusat:
Tzu Chi Center Tower 2, Lantai 6, BGM
Jl. Pantai Indah Kapuk (PIK) Boulevard, Jakarta Utara 14470
Email: info@tzuchi.or.id
Telp. 021-5055 9999, Fax. 021-5055 6699
Website:
http://www.tzuchi.or.id

Sejarah Tzu Chi


Suatu hari di tahun
1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya datang ke suatu balai
pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi salah seorang umat yang menjalani
operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, beliau
melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak tampak adanya pasien. Dari
informasi yang didapat diketahui bahwa darah tersebut milik seorang wanita
penduduk asli asal Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu
membayar NT$ 8.000 (sekitar Rp 2,4 juta), wanita tersebut tidak bisa berobat
dan terpaksa harus dibawa pulang.
Mendengar hal ini,
perasaan Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu beliau memutuskan
hendak berusaha mengumpulkan dana amal untuk menolong orang dan menyumbangkan
semua kemampuan yang ada pada dirinya untuk menolong orang yang menderita sakit
dan kemiskinan di Taiwan bagian timur.
Karena ada jalinan
jodoh, di saat itu kebetulan sekali tiga orang suster Katolik dari Sekolah
Menengah Hualien datang berkunjung untuk menemui Master Cheng Yen. Suster
bertanya, "Agama Katolik kami telah membangun rumah sakit, mendirikan
sekolah, dan mengelola panti jompo untuk membagi kasih sayang kepada semua umat
manusia, walaupun Buddha juga menyebut menolong dunia dengan welas asih, tetapi
mohon tanya, agama Buddha mempersembahkan apa untuk masyarakat?" Kata-kata
ini sangat menyentuh hati Master Cheng Yen. Sebenarnya waktu itu umat Buddha
juga menjalankan kebajikan dan beramal, namun tanpa mementingkan namanya. Dari
situ membuktikan bahwa semua umat Buddha memiliki rasa cinta kasih yang dalam,
hanya saja terpencar dan kurang koordinasi serta kurang terkelola. Master Cheng
Yen bertekad untuk menghimpun potensi ini dengan diawali dari mengulurkan
tangan mendahulukan bantuan kemanusiaan.
Cikal Bakal Tzu Chi Dimulai dari Celengan Bambu
Kegiatan
kemanusiaan Tzu Chi untuk kaum fakir miskin diawali dari 6 ibu rumah tangga
yang setiap hari, masing-masing individu, merajut sepasang sepatu bayi. Di
samping itu, setiap anggota diberi sebuah celengan bambu oleh Master Cheng Yen,
agar para ibu rumah tangga setiap pagi sebelum pergi berbelanja ke pasar,
menghemat dan menabung 50 sen ke dalam celengan bambu. Dari 30 anggota bisa
terkumpul 450 dolar setiap bulan, ditambah hasil pembuatan sepatu bayi 720 dolar,
maka setiap bulan bisa terkumpul sebanyak 1.170 dolar sebagai dana bantuan
untuk kaum fakir miskin.
Kabar ini dengan
cepat tersebar luas ke berbagai tempat di Hualien, dan orang yang ingin turut
bergabung semakin banyak. Pada tanggal 14 Mei 1966, Yayasan Kemanusiaan Buddha
Tzu Chi secara resmi terbentuk.
Pada awal masa
pembentukan Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi, Master Cheng Yen bersama para
pengikut mengambil tempat sempit yang tidak lebih dari 20 m2 di Vihara Pu Ming,
sambil berupaya menghasilkan produk untuk mendukung kehidupan, sambil mengurus
jalannya organisasi. Pada musim gugur tahun 1967, ibunda Master Cheng Yen
membelikannya sebidang tanah yang sekarang dimanfaatkan untuk bangunan Griya
Perenungan. Walaupun demikian, Master Cheng Yen beserta para pengikut masih
tetap mempertahankan prinsip hidup mandiri. Biaya perluasan seluruh proyek
Griya Perenungan, selain mengandalkan pinjaman uang dari bank atas dasar
hipotik hak kepemilikan tanah tersebut, juga dari hasil usaha kerajinan tangan.
Sampai kini pun, Master Cheng Yen dan para pengikutnya tetap hidup mandiri
dengan bercocok tanam ataupun menjalankan industri rumah tangga. Mereka tidak
mau menerima sumbangan.
Tzu Chi Indonesia


Pada tahun 1994,
para ibu ini berkunjung ke Hualien, Taiwan untuk menemui Master Cheng Yen. Di
sana mereka memohon restu untuk secara resmi mendirikan Tzu Chi di Indonesia.
Saat itu Master Cheng Yen berpesan, “Bagi yang mencari nafkah di negeri orang,
harus memanfaatkan potensi setempat, dan berkontribusi bagi penduduk setempat.”
Demikianlah para istri ekspatriat Taiwan ini membuka lahan cinta kasih di
Indonesia. Hingga kini, meski berlabel yayasan Buddha, namun para donatur dan
relawan Tzu Chi berasal dari berbagai agama. Begitu pun dalam setiap
kegiatannya, tidak pernah memandang suku, agama, ras, dan golongan.

Bersumbangsih untuk Sesama
Sejak tahun 1993,
relawan Tzu Chi sudah mulai bersumbangsih pada masyarakat di sekitar mereka.
April 1994, Tzu Chi Indonesia mulai mengunjungi panti jompo secara rutin. Juli
1994, Tzu Chi mulai memberikan bantuan bencana berupa lampu petromaks pada
korban bencana tsunami di Jawa Timur. Bulan Desember 1994 saat Gunung Merapi di
Jawa Tengah meletus, Tzu Chi memberi bantuan kebutuhan hidup dan juga perumahan.
Dalam
perjalanannya, bantuan yang diberikan semakin bervariatif, mulai dari pemberian
beasiswa pada siswa SDN Jembatan Baru, Jakarta Utara, bantuan kepada pasien
penanganan khusus yang pertama, Ferry yang menderita rakhitis, hingga program
pemberantasan TBC di Tangerang. Sejak tahun 2000, perkembangan Tzu Chi
Indonesia semakin nyata dengan sumbangsih dalam koridor 4 misi utama.

Cinta Kasih Terus Bergulir
Banjir besar
Jakarta awal tahun 2002 melatarbelakangi serangkaian program jangka panjang
berskala besar. Pada Maret 2002, Tzu Chi membersihkan Kali Angke dan Kali
Ciliwung. Kemudian pada Juli 2002, dimulai pembangunan Perumahan Cinta Kasih
Tzu Chi bagi warga bantaran Kali Angke yang tinggal di daerah kumuh dan menjadi
korban banjir. Perumahan Cinta Kasih di Cengkareng, Jakarta Barat ini
diresmikan Presiden Megawati Soekarno Putri tanggal 25 Agustus 2003, dan
lengkap dengan poliklinik, sekolah, balai warga, musala, dan pusat daur ulang.
Sepanjang tahun
2003, Tzu Chi Indonesia disibukkan dengan pembagian 50.000 ton beras cinta
kasih kepada masyarakat Indonesia yang membutuhkan. Berangkat dari beras, Tzu
Chi sembari menyebarkan filosofi cinta kasih universal. Di berbagai kota, mulai
muncul orang-orang yang bersedia menjadi relawan, bahkan di beberapa kota
terbentuk kantor penghubung Tzu Chi.
Logo Tzu Chi


Perahu
melambangkan Tzu Chi mengemudikan sebuah perahu cinta kasih untuk menyelamatkan
semua makhluk hidup dari penderitaan. Delapan kelopak melambangkan Delapan Ruas
Jalan Mulia yang menjadi panduan bagi anggota Tzu Chi dalam melangkah.
Delapan Ruas
Jalan Mulia tersebut meliputi:
1. Pandangan
Benar
2. Pikiran
Benar
3. Ucapan
Benar
4. Perbuatan
Benar
5. Mata
Pencaharian Benar
6. Usaha
Benar
7. Perhatian
Benar
8.
Konsentrasi Benar.
Visi & Misi Tzu Chi
Dengan hati penuh
welas asih dan kemurahan hati, menjalankan misi untuk menolong sesama makhluk
yang menderita, mengembangkan kebahagiaan, melenyapkan penderitaan, menciptakan
dunia Tzu Chi yang bersih dan suci, dengan kebijaksanaan menunaikan tugas yang
sempurna, mengajak kaum dermawan di seluruh dunia, bersama-sama menanam jasa
kebajikan dilahan kebajikan yang subur, dengan tekun menanam ribuan kuntum
teratai dalam hati, menciptakan bersama masyarakat yang penuh dengan cinta
kasih


Tzu Ching (Muda-Mudi)


|
|
Setiap tahunnya Tzu
Ching berkumpul mengajak teman-teman baru untuk mengenal misi Tzu Chi lebih
dalam lagi melalui Tzu Ching Camp. Kegiatan selama 3 hari 2 malam ini
pertama kali dimulai pada tanggal 30 Desember 2006 – 1 Januari 2007 dan diikuti
sebanyak 49 orang. Camp pertama ini dilanjutkan camp selanjutnya
setiap tahun. Semakin lama, jumlah peserta pun semakin bertambah. Hingga tahun
2012, telah terselenggara 7 kali Tzu Ching Camp dan sudah diikuti
sebanyak 764 orang. Pada tanggal 7 September 2013, untuk memperingati 10 tahun
terbentuknya Tzu Ching, para relawan muda ini menggelar pementasan Sutra Makna
Tak Terhingga (Wu Liang Yi Jing) yang dihadiri untuk Tzu Ching dari berbagai
kota.
![]() |
Berbagai kegiatan diikuti oleh Tzu Ching, mulai dari baksos,
pembagian beras, kunjungan kasih ke rumah penerima bantuan Tzu Chi, dan juga
panti asuhan dan jompo, hingga kegiatan pelestarian lingkungan. Berbagai
kegiatan Tzu Chi pun sering didukung oleh Tzu Ching sebagai salah satu relawan
komunitas. Mereka membawa harapan bahwa cinta kasih akan terus diwariskan dan
senantiasa hadir di masa mendatang.
Aula Jing Si Indonesia

Sejak berkiprah
pada tahun 1993, insan Tzu Chi selalu terlebih dahulu memberi bantuan kepada
orang lain, membangun sekolah dan juga rumah. Setelah segala hal ini dilakukan
barulah Tzu Chi membangun “rumah” baginya sendiri. Dalam kurun waktu 19 tahun
(1993 – 2012), 4 misi utama dan 8 jejak Dharma dijalankan para relawan Tzu Chi
dari belahan barat hingga timur Indonesia.
Berkembangnya
jumlah relawan dan kegiatan mendorong didirikannya sebuah pusat kegiatan baru
yaitu Aula Jing Si Indonesia (Kompleks Tzu Chi) yang berlokasi di Pantai Indah
Kapuk, Jakarta Utara. Berdiri di areal 10 hektar, bangunan utama Aula Jing Si
ini terdiri dari 8 lantai, dan menjadi pusat kegiatan Tzu Chi Indonesia,
mencakup kantor yayasan, studio DAAI TV, pusat pengembangan empat misi Tzu Chi,
serta pusat pendidikan dan bimbingan masyarakat.
Pada tanggal 7
Oktober 2012, Aula Jing Si Indonesia diresmikan penggunaannya oleh Menko Kesra
RI Agung Laksono, dan dihadiri oleh para pejabat pemerintahan lainnya, para
pemuka agama, dan tokoh masyarakat. Lebih dari 5.000 relawan dan masyarakat
umum menjadi saksi momen bersejarah ini, termasuk para relawan dari luar
negeri, seperti Amerika Serikat, Filipina, Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan,
Thailand, dan Tiongkok.
Berdirinya Aula
Jing Si diharapkan dapat menghadirkan semangat pengabdian diri yang penuh welas
asih dari para insan Tzu Chi. Master Cheng Yen berharap Aula Jing Si bisa
menjadi tempat “pembabaran Dharma tanpa suara”, serta dapat merekam dan
mewariskan jejak cinta kasih Tzu Chi kepada generasi masa depan.
Alasan memilih Komunitas Tzu chi
Kami memilih komunitas Tzu Chi karena kami telah sering lihat pada
beberapa kesempatan, mereka melakukan berbagai acara amal yang bermanfaat dan
membantu bagi orang-orang yang membutuhkan. Sehingga daripada itu, kami atas
dasar ingin ikut membantu melancarkan acara dan bersamaan dengan itu ingin
belajar dari apa yang diajarkan oleh komunitas Tzu Chi.
Alasan lain yang mendasari keinginan kami untuk turut serta dalam
kegiatannya juga karena kami setuju dengan misi-misi yang dipunyai Tzu Chi.
Lebih khususnya kami memilih untuk ikut serta dalam misi pelestarian lingkungan sebagai salah
satu misi yang kami anggap menjadi penting pada zaman sekarang. Mengingat
global warming sendiri merupakan masalah yang sangat genting untuk diperhatikan
dan dibenahi oleh semua Negara di dunia.
Mengingat juga masalah pendidikan menjadi salah satu yang menghalangi
Negara-negara berkembang dalam mensejahterakan rakyatnya, dan Indonesia yang
juga merupakan Negara berkembang yang mengalami masalah yang sama. Kami sebagai
warga negara Indonesia tidak mau tinggal diam dan akan ikut serta memerangi
kebodohan, dan daripadanya misi pendidikan Tzu Chi juga menjadi fokus kami.
Jenis Kegiatan yang akan dilakukan kedepan











Surat
Pernyataan
Bahwa kegiatan yang diajukan oleh kelompok 6 dari kelas LB65
untuk mata kuliah CB – Interpersonal
Development yang beranggotakan :
·
Delfina Yulis - 1701290873
·
Adlina Farizah -
1701334931
·
Rommy Chandra -
1701308914
·
Avol Yapper -
1701326066
·
Titi Sari Surya Pratikno - 1701308220
·
Ival Rivaldi -
1701307123
·
Ardan Alfitra
- 1701324911
Telah memenuhi kriteria yang sesuai dengan persyaratan
kegiatan kerja sosial. Maka dari itu saya yang bertandatangan di bawah ini :
Nama Dosen : IWAN
IRAWAN, SH, SE, MH, MM, MBA
Kode Dosen : D3157
Menyatakan setuju bahwa kegiatan kerja sosial yang diajukan
dapat dilaksanakan dan karenanya berhak mendapat penilaian untuk itu.
Jakarta,
IWAN IRAWAN


Tidak ada komentar:
Posting Komentar